Tips Praktis Menghemat Biaya Pendaftaran Merek tanpa Mengorbankan Perlindungan Brand
Menghemat bukan berarti mendaftarkan merek secara asal-asalan atau memilih kelas sesedikit mungkin. Dalam praktiknya, penghematan yang paling aman justru dimulai dari pemetaan produk dan jasa yang benar sejak awal. Jika kelasnya tepat, Anda tidak perlu mengulang permohonan, menambah kelas karena terlambat sadar, atau kehilangan peluang perlindungan saat brand mulai berkembang.
Petakan sumber penghasilan utama, bukan hanya ide bisnis.
Misalnya, sebuah UMKM menjual sambal kemasan dan sesekali membuka kelas memasak. Jika pemasukan utama masih berasal dari sambal botolan, fokus awal biasanya ada pada kelas yang melindungi produk makanan tersebut. Kelas pelatihan bisa dipertimbangkan kemudian jika memang menjadi lini usaha yang serius dan rutin dijual.
Bedakan produk, jasa, dan rencana ekspansi.
Banyak pelaku usaha mencampur semuanya dalam satu daftar: kopi bubuk, kedai kopi, merchandise, dan pelatihan barista. Padahal masing-masing bisa masuk kelas berbeda tergantung bentuk bisnisnya. Jika saat ini Anda baru menjual kopi bubuk secara online, jangan langsung mendaftarkan semua rencana lima tahun ke depan tanpa menghitung urgensinya.
Gunakan daftar kelas sebagai alat seleksi, bukan sekadar formalitas.
Saat mengisi permohonan merek di DJKI, pemilihan kelas mengikuti klasifikasi barang dan jasa. Contohnya, “pakaian” berbeda dengan “jasa toko ritel pakaian”. Jika brand Anda dipakai pada label kaus, fokusnya tidak sama dengan brand yang dipakai sebagai nama toko online yang menjual berbagai merek pakaian.
Cek kompetitor yang produknya benar-benar mirip.
Sebelum mengajukan, lihat bagaimana merek sejenis didaftarkan di database DJKI. Jika Anda menjual skincare, bandingkan dengan merek skincare lain, bukan dengan salon kecantikan atau klinik estetika, karena ruang lingkup barang dan jasanya bisa berbeda. Cara ini membantu Anda membaca pola kelas yang relevan tanpa menebak-nebak.
Jangan mendaftarkan kelas tambahan hanya karena takut “kurang aman”.
Menambah kelas memang dapat memperluas perlindungan, tetapi juga menambah pengeluaran. Untuk UMKM, keputusan terbaik biasanya bertahap: lindungi dulu produk atau jasa yang sudah menghasilkan omzet, lalu tambahkan kelas lain ketika ekspansi sudah nyata. Contohnya, brand camilan rumahan tidak selalu perlu langsung mendaftarkan jasa restoran jika belum membuka gerai makan.
Siapkan deskripsi barang atau jasa dengan bahasa yang jelas.
Deskripsi yang terlalu luas seperti “segala jenis produk” tidak membantu proses klasifikasi. Lebih baik tulis konkret, misalnya “keripik singkong”, “bumbu instan”, “minuman serbuk”, atau “jasa katering”. Semakin jelas uraian usaha Anda, semakin kecil risiko salah arah saat menentukan kelas.
Hitung biaya per kelas sebelum membayar.
Permohonan merek pada umumnya dihitung berdasarkan jumlah kelas yang diajukan. Karena itu, biaya pendaftaran merek untuk satu kelas akan berbeda dengan beberapa kelas, mengikuti ketentuan tarif resmi yang berlaku. Sebelum membayar, cek kembali apakah setiap kelas memang diperlukan untuk penggunaan merek saat ini.
Konsultasikan sebelum submit, bukan setelah ada masalah.
Kesalahan kelas sering baru terasa ketika permohonan sudah masuk atau saat brand mulai dipakai lebih luas. Misalnya, pemilik usaha mendaftarkan merek untuk produk makanan, tetapi ternyata mereknya lebih sering dipakai untuk jasa katering. Konsultasi di awal membantu Anda menghindari biaya koreksi strategi yang sebenarnya bisa dicegah.
Prinsipnya sederhana: daftar sesuai kebutuhan bisnis yang nyata, tetapi jangan terlalu sempit sampai perlindungan merek tidak mencakup aktivitas utama Anda. UMKM perlu menjaga arus kas, namun brand juga aset yang nilainya bisa jauh lebih besar dari biaya administrasi awal. Di titik inilah pemilihan kelas menjadi keputusan bisnis, bukan hanya urusan formulir.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Biaya Pendaftaran Merek
Apa itu biaya pendaftaran merek?
Biaya pendaftaran merek adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengajukan permohonan pendaftaran merek ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI. Besarannya bergantung pada ketentuan PNBP yang berlaku dan jumlah kelas barang atau jasa yang dipilih. Jika Anda mendaftarkan lebih dari satu kelas, biaya yang dibayar biasanya mengikuti jumlah kelas tersebut.
Informasi Tambahan
baca info selengkapnya di sini

Bagaimana cara menghitung biaya pendaftaran merek untuk UMKM?
Cara menghitungnya dimulai dari menentukan merek akan digunakan untuk barang atau jasa apa, lalu mencocokkannya dengan kelas merek yang sesuai. Setelah itu, kalikan kebutuhan kelas dengan tarif resmi yang berlaku pada sistem DJKI. Untuk UMKM, penting juga memastikan apakah ada ketentuan atau skema tarif tertentu yang berlaku sesuai status usaha pada saat pengajuan.
Apakah mendaftarkan merek satu kelas lebih baik daripada beberapa kelas?
Satu kelas lebih hemat jika memang merek hanya dipakai untuk satu jenis barang atau jasa utama. Namun, beberapa kelas bisa lebih tepat jika brand yang sama dipakai untuk lini usaha berbeda, misalnya produk kopi kemasan dan jasa kedai kopi. Pilihan terbaik bukan yang paling murah, tetapi yang paling sesuai dengan penggunaan merek dalam bisnis Anda.
Apakah salah kelas merek bisa diperbaiki setelah permohonan diajukan?
Kesalahan kelas tidak selalu sederhana untuk diperbaiki, terutama jika substansi permohonan sudah tidak sesuai dengan barang atau jasa yang sebenarnya ingin dilindungi. Dalam beberapa kondisi, pelaku usaha bisa perlu mengajukan permohonan baru pada kelas yang benar. Karena itu, pengecekan kelas sebelum submit jauh lebih aman daripada memperbaiki setelah pembayaran dilakukan.
Apakah biaya pendaftaran merek akan hangus jika permohonan ditolak?
Dalam praktik administrasi, biaya resmi yang sudah dibayarkan untuk permohonan biasanya tidak otomatis kembali hanya karena permohonan menghadapi kendala atau penolakan. Risiko ini bisa muncul jika merek mirip dengan merek terdaftar lain, salah memilih kelas, atau tidak memenuhi syarat pendaftaran. Karena itu, pencarian merek dan pengecekan kelas sebaiknya dilakukan sebelum pengajuan.
Bagaimana cara mengecek kelas merek yang benar sebelum daftar?
Anda bisa memulai dengan menuliskan daftar barang atau jasa yang benar-benar dijual, lalu mencocokkannya dengan klasifikasi merek yang digunakan dalam sistem DJKI. Setelah itu, bandingkan dengan merek sejenis yang sudah terdaftar untuk melihat pola kelas yang relevan. Jika produk Anda punya beberapa kemungkinan kelas, konsultasi dengan pihak yang memahami pendaftaran merek akan membantu mengurangi risiko salah pilih.
Apakah merek dagang dan merek jasa memiliki biaya yang berbeda?
Perbedaan utama biasanya bukan pada istilah merek dagang atau merek jasa, melainkan pada jumlah kelas yang diajukan sesuai barang atau jasa. Produk fisik seperti makanan, pakaian, atau kosmetik masuk dalam kelas barang, sedangkan layanan seperti katering, konsultasi, atau pendidikan masuk dalam kelas jasa. Jika satu brand dipakai untuk barang dan jasa sekaligus, Anda perlu menghitung kebutuhan kelasnya dengan lebih teliti.
Kesimpulan
Bagi UMKM, pendaftaran merek sebaiknya tidak diperlakukan sebagai biaya sekali lewat, tetapi sebagai keputusan perlindungan aset usaha. Kesalahan memilih kelas bisa membuat pengeluaran membesar, sementara kelas yang terlalu sempit dapat membuat perlindungan brand tidak menjangkau aktivitas bisnis yang sebenarnya. Karena itu, sebelum membayar biaya pendaftaran merek, pastikan dulu hubungan antara nama brand, produk atau jasa, dan rencana penggunaan merek sudah jelas.
Langkah paling praktis adalah membuat daftar produk atau jasa yang sudah dijual hari ini, memisahkannya dari rencana ekspansi, lalu menentukan kelas berdasarkan prioritas bisnis. Dengan cara ini, Anda bisa lebih hemat tanpa mengorbankan perlindungan yang penting. Jika masih ragu, jangan menebak sendiri hanya karena ingin cepat submit.
Hubungi Sahabatlegal via WhatsApp untuk info lebih lanjut dan pengecekan kelas merek sebelum pengajuan. Anda juga dapat mengunjungi Sahabatlegal untuk layanan serupa, terutama jika ingin menghitung kebutuhan kelas dan biaya pendaftaran merek dengan lebih aman sejak awal.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Dalam praktiknya, biaya yang membengkak saat mendaftarkan merek sering bukan karena tarifnya semata, tetapi karena keputusan awal yang kurang tepat. Berikut beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi pada UMKM dan sebaiknya dihindari sejak sebelum pengajuan.
Mendaftarkan kelas berdasarkan rencana bisnis yang masih terlalu jauh.
Kesalahan ini sering muncul karena pemilik usaha ingin “sekalian aman”. Misalnya, usaha kopi rumahan yang saat ini baru menjual bubuk kopi dan minuman siap saji langsung ingin mendaftarkan kelas untuk makanan beku, kosmetik, merchandise, aplikasi pemesanan, dan franchise. Secara strategi, niat melindungi merek memang baik. Namun, jika rencana tersebut belum jelas kapan dijalankan, biaya pendaftaran merek bisa menjadi terlalu besar tanpa manfaat langsung.
Yang benar, pisahkan kebutuhan hari ini, rencana 6–12 bulan ke depan, dan ekspansi jangka panjang. Dahulukan kelas yang benar-benar digunakan atau paling dekat dengan sumber omzet. Jika bisnis sudah terbukti berkembang, penambahan perlindungan dapat dipertimbangkan kembali dengan strategi yang lebih matang.
Menganggap satu kelas otomatis melindungi semua jenis usaha.
Banyak pelaku UMKM mengira setelah nama merek terdaftar, merek tersebut aman untuk semua produk dan jasa. Padahal, perlindungan merek terkait erat dengan kelas dan uraian barang atau jasa yang diajukan. Merek untuk produk makanan, misalnya, tidak otomatis melindungi jasa restoran, distribusi online, atau layanan pelatihan kuliner jika kelas dan uraiannya berbeda.
Yang benar, petakan dulu aktivitas usaha secara nyata. Apakah Anda menjual produk fisik, menyediakan jasa, membuka gerai, menjadi distributor, atau menawarkan layanan digital? Dari pemetaan ini, kelas merek bisa ditentukan dengan lebih akurat sehingga perlindungan tidak salah sasaran.
Menyalin uraian merek milik kompetitor tanpa memahami konteksnya.
Melihat contoh dari kompetitor memang bisa membantu, tetapi menyalin mentah-mentah berisiko. Kompetitor mungkin memiliki model bisnis berbeda, skala usaha lebih besar, atau memang mendaftarkan kelas yang tidak relevan bagi UMKM yang baru mulai. Akibatnya, Anda bisa membayar untuk kelas yang belum diperlukan, atau justru melewatkan kelas yang penting bagi bisnis sendiri.
Yang benar, gunakan data kompetitor hanya sebagai pembanding awal. Setelah itu, sesuaikan dengan produk, jasa, saluran penjualan, dan rencana usaha Anda. Jika bingung membaca uraian kelas, konsultasi dengan pihak yang terbiasa menangani pendaftaran merek dapat menghemat waktu dan mengurangi risiko salah pengajuan.
Memilih uraian barang atau jasa yang terlalu sempit.
Ada juga UMKM yang terlalu hemat di awal dengan memilih uraian yang sangat spesifik. Misalnya hanya menulis satu jenis produk tertentu, padahal dalam praktiknya produk yang dijual masih satu kelompok dan terus berkembang. Jika uraian terlalu sempit, perlindungan merek bisa tidak mencakup variasi produk yang sebenarnya masih menjadi bagian inti usaha.
Baca Juga: Jasa Pendirian PT Buleleng
Yang benar, uraian perlu cukup spesifik agar tidak kabur, tetapi tetap mencerminkan ruang gerak bisnis yang wajar. Contohnya, usaha camilan tidak hanya melihat satu varian rasa yang dijual hari ini, tetapi juga kategori produk yang memang menjadi lini utama usaha. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara perlindungan dan efisiensi biaya.
Baru memikirkan merek setelah produk ramai di pasar.
Kesalahan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa serius. Saat produk sudah dikenal, nama merek mulai muncul di marketplace, media sosial, dan kemasan. Jika ternyata nama tersebut sudah diajukan atau terdaftar oleh pihak lain untuk kelas yang relevan, pemilik usaha bisa kehilangan momentum, harus rebranding, mengganti kemasan, dan mengulang promosi dari awal.
Yang benar, lakukan pengecekan merek sebelum brand dipublikasikan secara luas. Tidak harus menunggu usaha besar. Justru pada tahap awal, keputusan nama, logo, kelas, dan uraian bisa disusun lebih rapi sebelum biaya promosi dan produksi kemasan terlanjur dikeluarkan.
Tips Lanjutan dari Praktisi
Selain memahami kelas merek, ada beberapa pendekatan praktis yang sering dipakai agar pengajuan lebih efisien. Ini bukan sekadar soal menekan biaya pendaftaran merek, tetapi memastikan uang yang dikeluarkan benar-benar memberi perlindungan yang berguna untuk bisnis.
Buat “peta merek” sebelum menentukan kelas.
Peta merek adalah daftar sederhana yang memuat nama brand, produk atau jasa utama, kanal penjualan, target ekspansi, dan aset pendukung seperti logo, kemasan, atau nama varian. Dari sini, Anda bisa melihat apakah merek dipakai hanya untuk produk, untuk jasa, atau untuk keduanya.
Contoh skenario: sebuah UMKM bernama “Dapur Lestari” menjual sambal botol melalui marketplace, menerima pesanan hampers, dan berencana membuka kelas memasak. Dalam kondisi ini, jangan langsung menyatukan semua rencana sebagai kebutuhan mendesak. Produk sambal botol bisa menjadi prioritas utama. Hampers perlu dilihat apakah hanya bentuk kemasan penjualan atau sudah menjadi layanan tersendiri. Kelas memasak dapat dipertimbangkan kemudian jika benar-benar akan dijalankan sebagai jasa edukasi.
Bedakan merek utama, sub-brand, dan nama produk.
Tidak semua nama yang muncul dalam bisnis harus langsung didaftarkan sebagai merek terpisah. Ada nama usaha utama, ada nama lini produk, ada pula nama varian. Kesalahan membedakan ini bisa membuat pengajuan terlalu banyak dan anggaran menjadi tidak efisien.
Misalnya, “Kopi Tumbuh” adalah brand utama, sementara “Tumbuh Latte”, “Tumbuh Aren”, dan “Tumbuh Robusta” hanya nama varian. Dalam banyak kasus, yang lebih prioritas adalah melindungi merek utama terlebih dahulu. Namun, jika salah satu nama varian berkembang menjadi lini besar yang berdiri sendiri, barulah pendaftaran terpisah bisa dipertimbangkan.
Periksa kesesuaian merek dengan legalitas usaha lainnya.
Pendaftaran merek sebaiknya tidak berdiri sendiri. Untuk bisnis yang sedang berkembang, merek sering berkaitan dengan NIB, izin usaha, sertifikasi halal, BPOM, izin edar, atau dokumen perusahaan. Jika identitas usaha belum rapi, proses pengembangan bisnis bisa tersendat meskipun merek sudah diajukan.
Di sinilah pendampingan yang menyeluruh menjadi penting. SahabatLegal membantu pelaku usaha tidak hanya dalam pendaftaran merek dagang, tetapi juga pendirian PT, PT Perorangan, CV, pengurusan NIB OSS, konsultasi OSS RBA, sertifikasi halal, BPOM, hingga konsultasi hukum bisnis. Dengan melihat legalitas secara utuh, UMKM dapat menentukan urutan pengurusan yang paling masuk akal sesuai kondisi usaha.
Jangan hanya menghitung biaya resmi, hitung juga biaya koreksi kesalahan.
Saat membandingkan biaya pendaftaran merek, banyak pelaku usaha hanya melihat angka di awal. Padahal, biaya tidak langsung juga perlu diperhitungkan: waktu menunggu, risiko pengajuan kurang tepat, kebutuhan mengulang strategi brand, perubahan kemasan, hingga potensi kehilangan peluang kerja sama karena legalitas merek belum jelas.
Karena itu, pendekatan paling hemat bukan selalu yang paling murah di depan. Pendekatan yang lebih aman adalah memastikan pengecekan merek, pemilihan kelas, dan uraian barang atau jasa dilakukan dengan benar sebelum pengajuan. Jika sejak awal rapi, peluang salah arah dapat ditekan.
Gunakan konsultasi awal untuk menguji asumsi bisnis.
Banyak pemilik usaha sebenarnya sudah punya gambaran, tetapi belum yakin apakah kelas yang dipilih sudah tepat. Konsultasi awal bisa dipakai untuk menguji asumsi tersebut. Misalnya, apakah usaha Anda masuk kategori produk, jasa perdagangan, jasa restoran, layanan kesehatan, pendidikan, atau kombinasi beberapa aktivitas.
SahabatLegal memiliki pendekatan yang praktis dan mudah dipahami, sehingga klien tidak dipaksa memahami bahasa hukum yang rumit. Diskusi dapat dimulai dari kondisi usaha yang nyata: produk apa yang dijual, izin apa yang sudah dimiliki, rencana ekspansi seperti apa, dan perlindungan merek mana yang paling prioritas. Jika ingin mengecek kebutuhan kelas sebelum mengajukan, Anda dapat menghubungi SahabatLegal melalui WhatsApp di https://wa.me/6282180878858 atau mengunjungi https://sahabatlegal.com.
Pada akhirnya, strategi merek yang baik bukan hanya soal mendaftarkan nama, tetapi menempatkan perlindungan pada bagian bisnis yang benar-benar bernilai. Dengan memahami kesalahan umum dan menerapkan langkah praktis di atas, UMKM dapat mengambil keputusan yang lebih tenang, hemat, dan terarah sebelum mengeluarkan biaya pendaftaran merek.






