Sahabatlegal.com

Biaya Pendaftaran Merek: Cara Hitung per Kelas + Contoh

Ringkasan Singkat: Biaya pendaftaran merek adalah total biaya yang perlu disiapkan untuk mengajukan perlindungan merek ke DJKI, meliputi PNBP resmi dan, jika menggunakan konsultan, biaya jasa pendampingan. PNBP pendaftaran merek umumnya mulai dari Rp500.000 per kelas untuk UMK dan Rp1.800.000 per kelas untuk umum, sehingga total biaya bergantung pada jumlah kelas barang/jasa yang didaftarkan.

biaya pendaftaran merek di Indonesia pada dasarnya dihitung per kelas barang atau jasa, bukan per nama merek. Secara umum, tarif PNBP pendaftaran merek online di DJKI adalah Rp1.800.000 per kelas untuk pemohon umum dan Rp500.000 per kelas untuk pemohon UMK, sehingga total biaya sangat bergantung pada berapa kelas yang dipilih dan apakah pengajuan dilakukan sendiri atau dibantu konsultan.

Tahukah kamu bahwa satu nama merek yang sama bisa dikenakan biaya berbeda hanya karena produknya masuk ke lebih dari satu kelas? Misalnya, merek “Laras” untuk kopi bubuk bisa berada di kelas yang berbeda dengan “Laras” untuk jasa kedai kopi. Kalau sejak awal kelasnya tidak dihitung dengan benar, pemilik usaha bisa menganggarkan terlalu kecil, atau sebaliknya membayar untuk kelas yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Inilah alasan penghitungan biaya tidak cukup hanya bertanya, “Daftar merek berapa?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: merek ini dipakai untuk barang atau jasa apa, akan dipakai sekarang atau nanti, dan kelas mana yang paling aman untuk melindungi bisnis. Dari titik itu, barulah anggaran pendaftaran bisa dihitung secara lebih realistis.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi biaya pendaftaran merek dagang untuk perlindungan brand usaha di Indonesia

Panduan ini dibuat untuk membantu pemilik usaha, UMKM, klinik, profesional, dan perusahaan memahami cara kerja biaya merek secara praktis. SahabatLegal sering menemui pelaku usaha yang sudah siap mendaftarkan merek, tetapi belum memetakan kelas barang atau jasa dengan benar. Padahal, langkah kecil ini menentukan arah perlindungan merek dan besarnya biaya sejak awal.

Apa Itu Biaya Pendaftaran Merek dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Biaya pendaftaran merek adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengajukan permohonan perlindungan merek ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI. Biaya ini dibayar berdasarkan kelas barang atau jasa yang dipilih dalam permohonan, bukan berdasarkan ukuran bisnis, jumlah cabang, atau banyaknya logo yang ingin dipakai. Dalam praktiknya, satu permohonan bisa mencakup satu kelas atau beberapa kelas, tergantung ruang lingkup penggunaan mereknya.

Konsep “kelas” ini penting karena sistem merek menggunakan klasifikasi barang dan jasa. Barang seperti makanan, kosmetik, pakaian, obat, alat elektronik, atau jasa seperti restoran, pendidikan, konsultasi, dan klinik tidak selalu berada dalam kelas yang sama. Jadi, ketika kamu mendaftarkan merek, negara perlu tahu merek tersebut akan dilindungi untuk jenis barang atau jasa apa.

Mengapa ini penting bagi pemilik usaha? Karena perlindungan merek tidak otomatis mencakup semua bidang usaha. Jika kamu mendaftarkan merek hanya untuk produk makanan, perlindungannya tidak serta-merta mencakup jasa restoran atau layanan katering apabila kelasnya berbeda. Akibatnya, ada potensi merek terlihat “sudah terdaftar”, tetapi perlindungannya belum menyentuh area bisnis yang benar-benar dijalankan.

Contoh sederhana: kamu punya merek “RasaLokal” untuk produk sambal kemasan. Jika sambal kemasan masuk dalam kelas barang tertentu, maka pendaftaran diarahkan ke kelas tersebut. Namun ketika bisnis berkembang menjadi restoran “RasaLokal”, kamu perlu mengecek lagi apakah jasa restoran berada di kelas berbeda dan apakah perlu didaftarkan juga.

Secara praktis, biaya resmi pendaftaran merek terdiri dari tarif PNBP per kelas. Untuk pengajuan online, tarif yang umum digunakan adalah Rp1.800.000 per kelas untuk pemohon umum dan Rp500.000 per kelas untuk pemohon UMK, dengan catatan tarif resmi dapat mengikuti ketentuan PNBP yang berlaku pada saat pengajuan. Di luar biaya resmi, bisa ada biaya jasa profesional apabila kamu menggunakan konsultan atau layanan pendampingan.

Di sinilah banyak pelaku usaha mulai keliru membedakan antara biaya resmi dan biaya layanan. Biaya resmi adalah setoran negara untuk permohonan merek, sedangkan biaya layanan biasanya mencakup pemeriksaan awal, penentuan kelas, penyusunan daftar barang/jasa, administrasi, pemantauan proses, dan pendampingan jika ada kendala. Keduanya perlu dipahami terpisah agar anggaran tidak terlihat “mahal” tanpa tahu komponennya.

Berdasarkan pengalaman praktisi, rata-rata kesalahan awal terjadi bukan karena pemilik usaha tidak mau membayar, tetapi karena belum tahu kelas mana yang relevan. Banyak bisnis merasa cukup mendaftarkan satu kelas, lalu baru menyadari bahwa kegiatan utamanya justru berada di kelas lain. Koreksi seperti ini bisa membuat proses lebih lama dan perencanaan biaya menjadi tidak rapi.

Misalnya, sebuah klinik kecantikan ingin mendaftarkan nama brand. Jika bisnisnya hanya menjual skincare, pendekatannya berbeda dengan klinik yang memberikan jasa perawatan kesehatan atau estetika. Produk skincare, layanan klinik, dan pelatihan kecantikan bisa berada pada kelas yang berbeda, sehingga penghitungan biaya harus dimulai dari pemetaan kegiatan usaha, bukan dari nama mereknya saja.

Agar lebih aman, pemilik usaha sebaiknya menyiapkan daftar barang atau jasa yang benar-benar digunakan di pasar. Jangan hanya menulis “produk saya makanan” atau “jasa saya kesehatan”, karena deskripsi terlalu umum bisa menyulitkan penentuan kelas. Tuliskan secara konkret, misalnya “keripik singkong kemasan”, “minuman kopi siap minum”, “jasa kedai kopi”, “layanan klinik pratama”, atau “jasa konsultasi bisnis”.

Pendekatan seperti ini juga membantu saat kamu berkonsultasi dengan pihak yang menangani legalitas usaha. SahabatLegal, misalnya, tidak hanya membantu pendaftaran merek dagang, tetapi juga mendampingi kebutuhan legalitas lain seperti pendirian PT, CV, NIB OSS, izin usaha, izin klinik, halal, BPOM, hingga konsultasi hukum bisnis. Untuk gambaran layanan pendaftaran merek, kamu dapat melihat informasi terkait di layanan pendaftaran merek SahabatLegal.

Cara Menghitung Biaya Pendaftaran Merek per Kelas Barang atau Jasa

Cara paling praktis menghitung biaya pendaftaran merek adalah: tentukan jumlah kelas yang dibutuhkan, lalu kalikan dengan tarif resmi per kelas sesuai kategori pemohon. Jika kamu pemohon umum dan mendaftarkan 1 kelas, estimasi biaya resmi adalah 1 x Rp1.800.000. Jika kamu pemohon UMK dan memenuhi ketentuan sebagai UMK, estimasi biaya resmi untuk 1 kelas adalah 1 x Rp500.000.

Namun, langkah ini tidak boleh dimulai dari angka. Mulailah dari daftar barang atau jasa yang akan dilindungi, karena kelas merek mengikuti aktivitas bisnis. Menghitung dari angka terlebih dahulu sering membuat pemilik usaha memaksakan semua produk masuk ke satu kelas, padahal secara klasifikasi belum tentu tepat.

Berikut cara hitung yang bisa langsung kamu praktikkan:

  • Tulis semua barang atau jasa yang memakai merek. Contoh: “kopi bubuk”, “kopi siap minum”, dan “jasa kedai kopi”. Ini penting agar tidak ada aktivitas utama yang tertinggal.
  • Kelompokkan berdasarkan jenisnya. Produk barang dan jasa layanan sering berada di kelas berbeda. Contoh: produk kopi dan layanan kedai kopi tidak otomatis berada dalam satu kelas.
  • Cek kelas yang sesuai untuk tiap kelompok. Tujuannya bukan mencari kelas sebanyak mungkin, tetapi mencari kelas yang benar-benar relevan dengan penggunaan merek.
  • Hitung jumlah kelas yang akan diajukan sekarang. Jika ada 2 kelas, maka biaya resmi dikalikan 2. Jika baru butuh 1 kelas, jangan tergesa mengambil kelas lain hanya karena ingin terlihat lengkap.
  • Tambahkan biaya jasa bila menggunakan pendampingan. Biaya ini berbeda dengan PNBP dan biasanya bergantung pada ruang lingkup layanan.

Contohnya begini. Kamu memiliki brand “Kopi Taman” yang saat ini menjual kopi bubuk kemasan dan juga membuka kedai kecil. Jika kopi bubuk berada dalam kelas barang dan jasa kedai berada pada kelas jasa, maka kebutuhan perlindungannya bisa menjadi 2 kelas. Untuk pemohon umum, estimasi biaya resmi menjadi 2 x Rp1.800.000 = Rp3.600.000.

Jika pemohon memenuhi kategori UMK dan mengajukan dengan tarif UMK, maka perhitungan resminya menjadi 2 x Rp500.000 = Rp1.000.000. Angka ini hanya menggambarkan biaya resmi per kelas, belum termasuk biaya pendampingan bila kamu meminta bantuan konsultan atau penyedia layanan legalitas. Karena itu, saat meminta penawaran, pastikan kamu menanyakan: berapa kelas yang diajukan, apa saja cakupan jasanya, dan apakah biaya negara sudah termasuk atau belum.

Contoh lain: merek “Sehat Prima” dipakai untuk layanan klinik pratama. Jika merek tersebut hanya digunakan untuk jasa klinik, maka fokus awalnya adalah kelas jasa yang sesuai. Tetapi jika klinik tersebut juga menjual produk kesehatan dengan merek yang sama, seperti suplemen atau alat kesehatan, perlu dicek apakah produk itu masuk kelas berbeda dan apakah memang sudah layak didaftarkan sejak awal.

Mengapa pemisahan ini penting? Karena setiap kelas menambah biaya, tetapi setiap kelas juga memperluas ruang perlindungan. Pemilik usaha perlu menyeimbangkan antara kebutuhan hukum dan kemampuan anggaran, bukan sekadar memilih paling murah atau paling banyak.

Dalam pengalaman praktis, bisnis tahap awal umumnya lebih efektif memprioritaskan kelas yang paling dekat dengan sumber omzet utama. Jika omzet datang dari produk makanan kemasan, dahulukan kelas produk tersebut. Jika omzet terbesar berasal dari jasa konsultasi, pelatihan, klinik, atau restoran, maka kelas jasa perlu menjadi perhatian utama.

Ada juga situasi ketika satu brand punya rencana ekspansi, tetapi belum semua kegiatan berjalan. Misalnya, hari ini baru menjual bumbu instan, tetapi tahun depan ingin membuka restoran. Kamu bisa mempertimbangkan apakah kelas restoran perlu diajukan sekarang atau nanti, dengan menimbang risiko pasar, kesiapan operasional, dan anggaran.

Perhitungan yang matang membantu kamu menghindari dua ekstrem. Pertama, terlalu hemat sehingga kelas penting tidak didaftarkan. Kedua, terlalu luas sehingga membayar beberapa kelas yang belum relevan dan belum dipakai dalam bisnis nyata.

Untuk membuat keputusan yang lebih aman, siapkan tiga data sebelum menghitung: produk atau jasa yang sudah dijual, produk atau jasa yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, dan produk atau jasa yang masih sebatas ide jangka panjang. Dari situ, kamu bisa membedakan mana kelas yang mendesak, mana yang bisa menyusul, dan mana yang belum perlu masuk anggaran saat ini.

Pada tahap ini, peran pendamping legal menjadi cukup membantu, terutama bagi bisnis yang produknya lintas kategori. SahabatLegal terbiasa membantu pelaku UMKM, perusahaan, klinik, tenaga kesehatan, yayasan, dan bisnis jasa memetakan kebutuhan legalitas secara praktis. Fokusnya bukan hanya mengurus dokumen, tetapi membantu pemilik usaha memahami alasan di balik setiap pilihan agar keputusan biaya lebih terukur.

Setelah daftar produk dan rencana usaha dipisahkan, pekerjaan berikutnya adalah menerjemahkan daftar itu ke kelas merek yang benar. Di titik inilah banyak pemilik usaha mulai ragu, karena nama produk yang sama bisa terlihat sederhana di pasar, tetapi klasifikasinya berbeda ketika masuk ke sistem pendaftaran merek. Kesalahan kecil pada tahap ini dapat membuat anggaran kurang tepat, bahkan membuat perlindungan merek tidak mencakup kegiatan bisnis yang sebenarnya dijalankan.

Langkah Menentukan Kelas Merek yang Tepat agar Biaya Tidak Membengkak

Menentukan kelas merek bukan sekadar mencari kategori yang “paling mirip” dengan produk. Dalam praktiknya, kelas merek mengacu pada jenis barang atau jasa yang ingin dilindungi, sehingga pemilik usaha perlu melihat fungsi utama, bentuk penjualan, dan cara brand tersebut digunakan di pasar. Karena biaya pendaftaran merek dihitung per kelas, pemilihan kelas yang terlalu banyak akan langsung menambah anggaran.

Konsep pentingnya begini: satu merek dapat didaftarkan untuk satu kelas atau beberapa kelas, tergantung cakupan bisnisnya. Jika bisnis hanya menjual produk fisik tertentu, bisa jadi cukup satu kelas. Namun, jika brand yang sama juga dipakai untuk jasa, pelatihan, aplikasi, layanan klinik, restoran, atau distribusi, kebutuhan kelasnya bisa berubah.

Langkah ini penting karena perlindungan merek mengikuti kelas yang diajukan, bukan mengikuti seluruh aktivitas usaha secara otomatis. Misalnya, kamu mendaftarkan merek untuk produk kopi kemasan, bukan berarti merek tersebut otomatis terlindungi untuk jasa kedai kopi. Kalau beberapa tahun kemudian brand dipakai untuk kafe, bisa saja perlu kelas jasa yang berbeda agar perlindungannya lebih sesuai.

Contoh yang sering terjadi adalah brand makanan rumahan yang berkembang menjadi bisnis dine-in. Pada awalnya, pemilik usaha hanya menjual sambal botol, bumbu instan, atau makanan beku melalui marketplace. Dalam situasi ini, fokus kelas biasanya berada pada barang makanan, bukan jasa restoran.

Namun, ketika brand yang sama mulai membuka outlet makan, menerima layanan katering, atau membuat konsep restoran, cakupannya perlu dilihat ulang. Tergantung model bisnisnya, pemilik usaha mungkin perlu mempertimbangkan kelas jasa penyediaan makanan dan minuman. Di sinilah perhitungan biaya harus disesuaikan dengan arah usaha, bukan hanya kondisi hari ini.

Agar lebih rapi, pemilik usaha dapat memakai pendekatan bertahap sebelum menentukan kelas. Pendekatan ini membantu membedakan kebutuhan yang benar-benar berjalan, rencana dekat, dan ekspansi yang masih terlalu jauh. Dengan begitu, biaya pendaftaran merek tidak membengkak karena memasukkan semua ide bisnis sekaligus.

  • Petakan produk atau jasa utama. Tulis apa yang benar-benar dijual saat ini, bukan hanya rencana jangka panjang.
  • Kelompokkan berdasarkan bentuk bisnis. Pisahkan barang fisik, jasa, platform digital, pelatihan, distribusi, klinik, restoran, atau layanan profesional.
  • Cek apakah satu brand dipakai lintas kategori. Nama yang sama untuk produk dan jasa bisa membutuhkan kelas berbeda.
  • Prioritaskan kelas yang paling berisiko dipakai pihak lain. Kelas inti bisnis biasanya lebih mendesak daripada kelas yang belum aktif.
  • Sesuaikan dengan rencana legalitas usaha. Jika bisnis juga sedang mengurus NIB OSS, izin operasional, halal, BPOM, atau izin klinik, peta kegiatan usaha bisa membantu membaca kelas merek dengan lebih masuk akal.

Perbandingan sederhananya bisa dilihat dari bisnis skincare. Jika brand hanya dipakai untuk produk kosmetik, kebutuhan kelasnya berbeda dengan brand yang juga membuka klinik kecantikan atau layanan treatment. Produk skincare dan jasa klinik berada dalam logika perlindungan yang tidak sama, sehingga pemilik usaha perlu berhati-hati sebelum menganggap satu kelas sudah cukup untuk semuanya.

Hal yang sama berlaku untuk bisnis edukasi. Brand yang menjual buku atau modul fisik tidak selalu sama kebutuhannya dengan brand yang menyediakan kursus, pelatihan online, atau sertifikasi. Jika salah membaca model bisnis, biaya memang bisa terlihat lebih murah di awal, tetapi perlindungannya berpotensi tidak menjangkau aktivitas utama yang menghasilkan pendapatan.

Dalam pengalaman praktisi, pembengkakan biaya sering bukan karena tarifnya berubah, melainkan karena pemilik usaha baru sadar bahwa brand-nya dipakai di lebih dari satu kategori. Misalnya, sebuah perusahaan ingin mendaftarkan merek untuk software, konsultasi bisnis, dan pelatihan. Jika ketiganya relevan dan aktif digunakan, kemungkinan kebutuhan kelasnya lebih dari satu.

Namun, bukan berarti semua rencana harus langsung didaftarkan. Jika sebuah brand baru menjual produk minuman dan rencana membuka sekolah barista masih sebatas ide lima tahun ke depan, kelas pelatihan bisa dipertimbangkan nanti. Keputusan ini tergantung pada kesiapan pasar, risiko kompetitor, skala brand, dan kemampuan anggaran saat ini.

Baca Juga: Jasa Pendirian CV Pematang Siantar

SahabatLegal biasanya membantu klien membaca titik tengah tersebut. Pendekatannya bukan mendorong sebanyak mungkin kelas, melainkan mencocokkan kebutuhan perlindungan dengan kondisi bisnis yang nyata. Bagi UMKM, klinik, yayasan, profesional, dan perusahaan yang juga mengurus pendirian badan usaha, NIB OSS, izin operasional, atau pendaftaran merek dagang, pemetaan seperti ini membuat keputusan legal lebih tertib dan tidak terpisah-pisah.

Di sisi lain, pemilik usaha juga perlu memahami bahwa kelas merek tidak selalu sama dengan KBLI pada perizinan usaha. KBLI membantu membaca kegiatan usaha dalam sistem perizinan, sedangkan kelas merek membaca jenis barang atau jasa untuk perlindungan merek. Keduanya bisa saling memberi konteks, tetapi tidak boleh disamakan secara mentah.

Karena itu, sebelum mengunci pengajuan, lakukan pengecekan ulang terhadap nama merek, jenis produk atau jasa, dan daftar kelas yang dipilih. Jika ada produk yang bentuknya mirip tetapi fungsinya berbeda, jangan langsung digabung tanpa analisis. Pada bisnis tertentu, seperti farmasi, kosmetik, alat kesehatan, klinik, makanan olahan, dan jasa digital, perbedaan fungsi dapat berpengaruh pada pemilihan kelas.

Contoh Perhitungan Biaya Pendaftaran Merek untuk UMKM, Produk Makanan, Jasa, dan Klinik

Setelah memahami cara memilih kelas, contoh perhitungan akan membuat gambaran anggaran lebih jelas. Prinsip dasarnya tetap sama: biaya pendaftaran merek dihitung berdasarkan jumlah kelas yang diajukan. Semakin banyak kelas yang relevan, semakin besar biaya yang perlu disiapkan.

Namun, angka akhirnya bisa berbeda tergantung status pemohon, jenis layanan yang dipakai, jumlah kelas, kompleksitas produk atau jasa, dan apakah pengajuan dilakukan sendiri atau didampingi konsultan. Selain biaya resmi yang dibayarkan ke negara, sebagian pelaku usaha juga memperhitungkan biaya pengecekan awal, penyusunan spesifikasi barang atau jasa, jasa pendampingan, dan respons jika ada kendala administratif. Karena itu, contoh di bawah lebih tepat dipahami sebagai cara berpikir, bukan daftar tarif final.

Untuk UMKM yang hanya menjual satu jenis produk utama, misalnya keripik pisang dengan satu merek, kebutuhan kelas biasanya lebih sederhana. Jika merek tersebut hanya digunakan untuk produk makanan ringan kemasan, pemilik usaha dapat fokus pada kelas yang sesuai dengan barang makanan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, perhitungan awal biasanya satu kelas, sehingga anggaran lebih mudah dikontrol.

Contohnya, brand “RasaKriuk” menjual keripik pisang, keripik singkong, dan keripik talas. Meskipun variannya lebih dari satu, semuanya masih berada dalam kelompok barang makanan ringan yang serumpun. Jika tidak ada jasa restoran, pelatihan, atau platform digital khusus, kebutuhan kelasnya bisa saja tetap satu, tergantung detail spesifikasi barang yang diajukan.

Bandingkan dengan brand makanan yang menjual frozen food sekaligus membuka gerai makan. Misalnya, “Dapur Lestari” menjual dimsum beku, saus kemasan, dan membuka outlet dine-in. Untuk produk makanan kemasan, pemilik usaha perlu melihat kelas barang; untuk layanan makan di tempat, perlu mempertimbangkan kelas jasa penyediaan makanan dan minuman.

Dalam skenario tersebut, biaya pendaftaran merek dapat meningkat karena tidak lagi hanya satu jenis penggunaan. Jika produk beku dan restoran sama-sama menjadi sumber pendapatan utama, mendaftarkan keduanya bisa lebih aman. Tetapi jika outlet masih rencana dan belum ada lokasi, tim, atau operasional, pemilik usaha bisa menimbang apakah kelas jasa perlu diajukan sekarang atau masuk tahap berikutnya.

Contoh lain ada pada bisnis jasa. Misalnya, sebuah brand bernama “SkillNaik” menyediakan pelatihan digital marketing untuk UMKM. Karena yang dijual adalah layanan edukasi atau pelatihan, fokusnya bukan barang fisik seperti buku, kaus, atau merchandise, kecuali barang tersebut memang menjadi produk komersial utama.

Jika “SkillNaik” hanya menjual kelas online dan mentoring, satu kelas jasa yang tepat bisa cukup. Tetapi jika brand tersebut juga menjual software manajemen iklan, menerbitkan buku, dan membuka marketplace template desain, kebutuhan kelas bisa melebar. Dalam kasus seperti ini, biaya pendaftaran merek harus dihitung berdasarkan seluruh penggunaan yang benar-benar strategis.

Untuk klinik, perhitungannya biasanya lebih sensitif karena brand sering dipakai pada layanan kesehatan, produk pendukung, dan kadang edukasi. Misalnya, “Klinik Sehat Prima” digunakan untuk layanan klinik pratama. Fokus utamanya adalah jasa layanan kesehatan, sehingga kelas jasa klinik menjadi perhatian utama.

Namun, jika klinik tersebut juga menjual skincare dengan merek yang sama, membuat suplemen, atau membuka pelatihan untuk tenaga kesehatan, analisis kelasnya tidak bisa disamakan. Produk kosmetik, produk kesehatan, jasa klinik, dan pelatihan memiliki karakter yang berbeda. Tergantung kegiatan yang benar-benar dijalankan, jumlah kelas bisa bertambah.

Pemilik klinik juga perlu melihat legalitas usaha secara utuh. Pendaftaran merek melindungi identitas brand, tetapi operasional klinik tetap memerlukan pemenuhan izin yang sesuai, seperti izin klinik, SIO klinik, izin praktik tenaga kesehatan, dan dokumen usaha lain sesuai ketentuan. SahabatLegal membantu klien membaca kebutuhan ini secara terpadu, mulai dari pendirian badan usaha, pengurusan izin klinik pratama, izin praktik dokter atau bidan, hingga pendaftaran merek dagang.

Perbandingan praktisnya dapat digambarkan seperti ini. UMKM makanan rumahan yang hanya menjual satu kelompok produk mungkin cukup menghitung satu kelas terlebih dahulu. Bisnis restoran dengan produk kemasan mungkin perlu dua kelas jika barang dan jasa sama-sama aktif.

Bisnis jasa konsultasi mungkin cukup satu kelas apabila hanya menjual layanan profesional. Tetapi jika brand yang sama dipakai untuk aplikasi, pelatihan, buku, dan layanan konsultasi, pemilik usaha harus menilai mana yang benar-benar perlu dilindungi sejak awal. Klinik juga demikian: satu brand untuk layanan klinik berbeda risikonya dengan satu brand untuk klinik, skincare, suplemen, dan pelatihan.

Dalam praktiknya, pemilik usaha sebaiknya tidak hanya bertanya “berapa biayanya”, tetapi juga “kelas mana yang paling melindungi sumber pendapatan utama saya”. Pertanyaan kedua ini lebih penting karena biaya yang murah belum tentu efektif jika kelasnya tidak sesuai. Sebaliknya, biaya yang lebih besar bisa masuk akal jika kelas tersebut memang melindungi lini bisnis utama dan mengurangi risiko sengketa merek di kemudian hari.

SahabatLegal dapat membantu melakukan pengecekan awal, membaca rencana usaha, menyusun daftar barang atau jasa, dan mendampingi proses pengajuan agar lebih terarah. Layanan ini cocok untuk pelaku UMKM, perusahaan, profesional, yayasan, klinik, dan bisnis jasa yang ingin legalitasnya rapi sejak awal. Dengan pendekatan praktis dan mudah dipahami, pemilik usaha bisa membuat keputusan biaya yang lebih rasional sebelum mengajukan merek.

Jika bisnis masih berkembang, perhitungan juga bisa dibuat bertahap. Daftarkan lebih dulu kelas yang paling mendesak dan berkaitan langsung dengan penjualan utama, lalu evaluasi kembali ketika produk atau layanan baru benar-benar diluncurkan. Cara ini sering lebih sehat bagi arus kas, terutama bagi UMKM yang sedang membagi anggaran antara merek, izin usaha, sertifikasi halal, BPOM, rekening perusahaan, dan kebutuhan operasional lain.

Tips Praktis agar Anggaran Pendaftaran Merek Lebih Tepat Sejak Awal

Setelah mengetahui cara menghitung kelas dan contoh risikonya, langkah berikutnya adalah membuat anggaran yang realistis. Jangan hanya menghitung biaya berdasarkan jumlah merek, tetapi hitung berdasarkan kombinasi nama merek, kelas barang atau jasa, dan rencana pengembangan bisnis. Satu nama merek bisa memerlukan lebih dari satu kelas jika dipakai untuk beberapa jenis produk atau layanan yang berbeda.

Contohnya, pemilik brand “Laras” yang menjual sambal kemasan sebaiknya fokus dulu pada kelas yang melindungi produk makanannya. Jika dalam waktu dekat ia juga ingin membuka restoran dengan nama yang sama, maka perlu dipertimbangkan perlindungan untuk layanan restoran. Namun jika rencana restoran masih sebatas ide dan belum ada eksekusi, pendaftaran bisa dibuat bertahap agar anggaran tidak terlalu berat.

Agar biaya pendaftaran merek tidak meleset, gunakan daftar sederhana sebelum mengajukan permohonan:

  • Tulis sumber pendapatan utama saat ini. Misalnya penjualan kopi bubuk, layanan klinik kecantikan, jasa desain interior, atau produk skincare. Kelas yang melindungi sumber pendapatan utama biasanya menjadi prioritas pertama.
  • Bedakan produk yang benar-benar dijual dan produk yang baru direncanakan. Jika bisnis baru menjual kue kering, jangan langsung mendaftarkan terlalu banyak kelas untuk restoran, katering, aplikasi, dan pelatihan kecuali memang ada kebutuhan bisnis yang dekat.
  • Cek apakah satu merek dipakai untuk barang dan jasa sekaligus. Brand fashion yang menjual pakaian berbeda kebutuhan kelasnya dengan brand fashion yang juga membuka jasa pelatihan menjahit atau marketplace sendiri.
  • Perhatikan peluang ekspansi yang sudah realistis. Jika klinik sudah menyiapkan produk skincare private label, mendaftarkan kelas produk bisa masuk akal. Tetapi jika baru sebatas wacana, prioritaskan dulu layanan kliniknya.
  • Lakukan penelusuran merek sebelum membayar pengajuan. Pengecekan awal membantu membaca potensi kemiripan dengan merek lain, meskipun tidak menjamin pasti diterima. Langkah ini penting agar anggaran tidak habis untuk pengajuan yang sejak awal berisiko tinggi.

Dalam praktiknya, biaya yang terlihat hemat bisa menjadi mahal jika kelasnya keliru. Misalnya usaha minuman mendaftarkan merek hanya pada kelas yang tidak sesuai dengan produk yang dijual, lalu beberapa bulan kemudian menemukan merek serupa sudah lebih dulu masuk pada kelas yang benar. Situasi seperti ini bisa menghambat ekspansi, membuat kemasan harus diganti, atau memaksa pemilik usaha mengajukan ulang dengan strategi baru.

Sebaliknya, anggaran yang disusun dengan tepat membuat proses lebih terkendali. Pemilik usaha tahu kelas mana yang perlu diajukan sekarang, kelas mana yang bisa menunggu, dan apa risiko jika perlindungan merek hanya diambil sebagian. Pendekatan seperti ini lebih sehat dibanding mendaftarkan semua kemungkinan tanpa dasar bisnis yang jelas.

Untuk bisnis yang sudah berjalan, sebaiknya kumpulkan contoh label produk, daftar layanan, katalog, akun marketplace, brosur, atau rencana ekspansi sebelum berkonsultasi. Dokumen sederhana ini membantu menentukan kelas merek secara lebih akurat. Dengan begitu, perhitungan biaya pendaftaran merek tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan aktivitas usaha yang benar-benar dilakukan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Biaya Pendaftaran Merek

Apa itu biaya pendaftaran merek?

Biaya pendaftaran merek adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengajukan perlindungan merek ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual sesuai kelas barang atau jasa yang dipilih. Biaya ini biasanya dihitung per permohonan dan per kelas. Jika satu merek diajukan untuk dua kelas berbeda, maka perhitungannya mengikuti jumlah kelas tersebut.

Bagaimana cara menghitung biaya pendaftaran merek per kelas?

Cara menghitungnya adalah dengan menentukan lebih dulu merek yang akan didaftarkan, lalu memilih kelas barang atau jasa yang sesuai dengan kegiatan usaha. Setelah kelas ditentukan, biaya dihitung berdasarkan jumlah kelas yang diajukan. Contohnya, brand makanan kemasan dan layanan restoran bisa membutuhkan kelas berbeda karena produknya berupa barang, sedangkan restoran merupakan jasa.

Apakah pendaftaran merek satu kelas cukup untuk bisnis kecil?

Satu kelas bisa cukup jika bisnis hanya menjual satu jenis barang atau jasa utama. Misalnya UMKM yang hanya menjual keripik kemasan dapat memprioritaskan kelas untuk produk makanan. Namun jika merek yang sama juga dipakai untuk kafe, katering, atau pelatihan memasak, perlu dianalisis apakah ada kelas tambahan yang sebaiknya diajukan.

Apakah lebih baik daftar merek sendiri atau lewat konsultan?

Daftar sendiri bisa lebih hemat dari sisi jasa pendampingan, tetapi pemilik usaha harus memahami pencarian merek, pemilihan kelas, dan penyusunan uraian barang atau jasa. Lewat konsultan biasanya lebih aman untuk bisnis yang produknya beragam, punya rencana ekspansi, atau khawatir salah kelas. Pilihan terbaik bergantung pada kompleksitas usaha dan tingkat risiko merek yang ingin dikelola.

Mengapa biaya pendaftaran merek bisa berbeda antara satu bisnis dan bisnis lain?

Biaya bisa berbeda karena jumlah kelas, jenis barang atau jasa, kebutuhan pengecekan awal, serta penggunaan pendampingan profesional. Brand skincare yang hanya menjual krim wajah bisa berbeda kebutuhannya dengan klinik kecantikan yang juga menjual produk, membuka layanan perawatan, dan mengadakan pelatihan. Semakin banyak lini usaha yang ingin dilindungi, semakin perlu perhitungan kelas yang cermat.

Apakah biaya pendaftaran merek akan kembali jika merek ditolak?

Dalam pengajuan merek, biaya resmi yang sudah dibayarkan umumnya tidak diperlakukan seperti uang jaminan yang otomatis kembali ketika permohonan bermasalah. Karena itu, pengecekan awal dan pemilihan kelas menjadi penting sebelum pengajuan dilakukan. Risiko penolakan bisa dikurangi dengan menelusuri merek serupa dan menyusun uraian barang atau jasa secara tepat.

Kapan waktu terbaik menghitung biaya pendaftaran merek?

Waktu terbaik adalah sebelum merek dipakai terlalu luas di kemasan, papan nama, marketplace, iklan, atau franchise. Jika bisnis sudah telanjur besar tetapi merek belum diajukan, risiko perubahan nama atau sengketa bisa lebih mahal dibanding biaya pengajuan sejak awal. Untuk usaha baru, perhitungan sebaiknya dilakukan saat nama brand sudah dipilih dan produk atau layanan utama sudah jelas.

Kesimpulan

Perhitungan biaya pendaftaran merek sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “berapa paling murah”, tetapi dari “apa yang benar-benar perlu dilindungi”. Kelas merek yang tepat membantu pemilik usaha mengamankan produk atau layanan utama, menghindari pengajuan yang mubazir, dan menyiapkan ekspansi dengan lebih rapi. Untuk UMKM, strategi bertahap sering lebih masuk akal: lindungi lini usaha yang sudah menghasilkan lebih dulu, lalu tambah perlindungan ketika bisnis berkembang.

Jika Anda masih ragu menentukan kelas, jangan menebak hanya dari nama produk. Dua bisnis dengan nama brand yang mirip bisa membutuhkan kelas berbeda karena model usahanya berbeda. Brand kopi bubuk, kedai kopi, jasa katering, klinik, skincare, dan pelatihan memiliki logika perlindungan yang tidak selalu sama.

Sebelum mengajukan, siapkan daftar produk atau jasa, rencana penggunaan merek, dan prioritas bisnis dalam 6–12 bulan ke depan. Sahabatlegal dapat membantu membaca kebutuhan tersebut, melakukan pengecekan awal, dan menyusun strategi pengajuan agar anggaran lebih terarah. Hubungi Sahabatlegal via WhatsApp untuk info lebih lanjut. Kunjungi Sahabatlegal untuk layanan serupa.